Kabar duka datang dari Yogyakarta. Supriyanto al Amin Sukri, atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Pri, sosok lansia nyentrik pecinta sepatu roda yang kerap terlihat meluncur di jalanan Jogja, telah berpulang. Mbah Pri meninggal dunia pada Selasa, 6 Januari 2026, pukul 11.03 WIB di RS Panti Rapih Yogyakarta, dalam usia 71 tahun.
Nama Mbah Pri dikenal luas oleh warga Jogja karena semangatnya yang tak biasa. Di usia senja, ia justru aktif berkeliling kota menggunakan sepatu roda, lengkap dengan helm dan pelindung, menjadi pemandangan yang kerap mencuri perhatian sekaligus mengundang senyum.
Putra almarhum, Wahyu Wijayanto, menyampaikan bahwa sang ayah meninggal dunia setelah berjuang cukup lama melawan kanker rektum atau kanker usus besar. Penyakit tersebut pertama kali terdeteksi pada tahun 2023. Saat itu, Mbah Pri sempat menjalani operasi pengangkatan tumor, lalu dilanjutkan dengan kemoterapi selama enam bulan pada awal 2024.
Setelah rangkaian kemoterapi selesai, kondisi Mbah Pri sempat membaik. Namun, sekitar pertengahan tahun 2025, kanker tersebut kembali aktif sehingga ia harus menjalani kemoterapi lanjutan hingga 12 kali. Kemoterapi terakhir dijalani dua pekan sebelum beliau meninggal dunia.
Usai kemoterapi terakhir, kondisi Mbah Pri sempat menurun dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Pada Senin pagi, kondisinya memburuk hingga akhirnya dirawat di ruang ICU dengan bantuan alat medis. Meski dalam kondisi tidak sadar saat mengembuskan napas terakhir, pihak keluarga menyebut sebelum masuk ICU, Mbah Pri masih sempat sadar.
Yang membuat banyak orang terharu, di tengah perjuangannya melawan penyakit, Mbah Pri tetap setia dengan hobinya. Bahkan, menurut Wahyu, sang ayah masih menggunakan sepatu roda untuk berangkat kontrol kesehatan atau mengambil obat. Saat menjalani kemoterapi ke-11 pun, Mbah Pri masih sempat meluncur dengan sepatu rodanya.
Hobi sepatu roda ini mulai ditekuni Mbah Pri sejak pensiun dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada tahun 2010. Belajar secara otodidak, ia menjadikan jalanan Jogja sebagai ruang bermain dan sarana menjaga semangat hidup. Sosoknya pun melekat sebagai simbol semangat lansia yang aktif dan penuh energi.
Ada satu keinginan Mbah Pri yang belum sempat terwujud. Ia pernah berencana melakukan perjalanan jauh dari Jogja menuju Bali menggunakan sepatu roda. Namun, kondisi kesehatan yang terus menurun membuat rencana tersebut harus tertunda hingga akhir hayat.
Saat ini, jenazah Mbah Pri disemayamkan di Masjid Nurul Faizin, Ambarketwang, Gamping, Sleman. Rencananya, beliau akan dimakamkan pada Rabu, 7 Januari 2026, pukul 10.00 WIB di Makam Utoro Loyo, Gamping Lor, Sleman.
Kepergian Mbah Pri meninggalkan kesan mendalam bagi warga Jogja. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai contoh bahwa usia bukanlah batas untuk tetap aktif, bergerak, dan mencintai hidup dengan cara sederhana.
Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. 🤍
Iklan
Mau Pasang Iklan? Email: [email protected]