Di puncak bukit yang dikenal sebagai Gunung Kelir, di Dusun Gunungkelir, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul, berdiri sebuah situs yang menyimpan cerita yang lebih dari sekadar batu dan nisan. Situs ini adalah Makam Ratu Malang, atau dikenal juga dengan nama Antaka Pura “istana kematian” sebuah warisan dari masa Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17, tepatnya era pemerintahan Amangkurat I.
Dari Siapa & Kenapa Dibangun
Ratu Malang, nama aslinya Retno Gumilang atau ada juga sebutan Nyi Truntum, awalnya menikah dengan seorang dalang bernama Dalang Panjang Mas. Namun kisahnya tidak mulus: Amangkurat I terpikat dengannya, bahkan meskipun Retno telah hamil. Tak terima atas penolakan, sang raja mengambil langkah drastis Dalang Panjang Mas dibunuh, dan Retno dibawa ke istana sebagai selir, lalu diangkat menjadi permaisuri dengan gelar Ratu Wetan atau Ratu Malang.
Saat Retno atau Ratu Malang meninggal di tahun 1665, tak banyak yang tahu persis apa penyebabnya ada yang mengatakan penyakit, ada yang menduga racun dari istana. Sang raja sangat terpukul, sampai jenazahnya ditinggalkan terbuka dan didatangi siang malam sebagai bentuk berkabung. Akhirnya jenazahnya dikuburkan di Gunung Kelir, dan istana kematian Antaka Pura dibangun sebagai penghormatan atas nama dan kisahnya. Pembangunannya memakan waktu sekitar tiga tahun, selesai pada 11 Juni 1668.
Struktur & Keunikan Fisik
Kompleks makam ini dibangun dengan material yang mencolok: dindingnya terbuat dari balok batu putih, sedangkan nisan-nisannya mayoritas dari batu andesit. Di kompleks tersebut ada puluhan nisan total 28 makam yang terbagi dalam beberapa lokasi: halaman depan, inti yang berpagar, dan halaman belakang. Salah satu makam utama adalah makam Ratu Malang sendiri, yang ukurannya lebih besar dan lebih mencolok dibanding makam-makam lainnya.
Kompleks dikelilingi oleh tembok keliling yang bagian-bagiannya masih utuh, bagian lain sudah rusak karena usia dan pengaruh alam. Lokasi sendang atau kolam penampung air hujan juga ada dekat makam, namanya Sendang Maya, yang dulunya direncanakan sebagai bagian dari ritual atau keperluan peristirahatan air.
Di atas bukit dengan ketinggian sekitar 99 meter di atas permukaan laut, tempat ini menawarkan suasana sepi dan tenang, hawa bukit, ruang terbuka, dan panorama alam yang membantu pengunjung merasakan atmosfer masa lalu antara cinta, kesedihan, dan keagungan sekaligus.
Dampak & Cerita Kelam di Balik Keindahan
Kisah Ratu Malang bukan hanya soal asmara, tapi juga pemicu peristiwa politik dan kebijakan keras di istana. Kesedihan Amangkurat I atas kematian Ratu Malang memicu tindakan-tindakan ekstrem, pengurungan selir-selir lain, dan pengabaian urusan negara karena berkabung. Legenda dan kisahnya hidup di masyarakat lewat cerita lisan, babad-babad, dan kesenian tradisional.
Selain itu, kondisi fisik makam dan kompleksnya menunjukkan tanda-tanda kerusakan akibat faktor alam: gempa, cuaca, lumut, dan waktu. Bagian-bagian pagar sudah runtuh, struktur tembok sebagian sudah tidak sempurna lagi. Meski begitu, sebagian besar masih bisa diamati, terutama bagian inti makam Ratu Malang dan nisan-nisannya.
Kenapa Harus Dikunjungi?
1.Sejarah yang emosional: Cerita cinta, pengkhianatan, dan manusia dalam posisi sulit memberi dimensi yang lebih dari sekadar wisata.
2.Arsitektur dan setting alam: Batu putih, bukit, kolam, dan udara sejuk di ruang terbuka menghadirkan keindahan tersendiri untuk refleksi atau sekadar jalan-jalan sore.
3.Budaya dan legenda lokal: Babad Tanah Jawi, cerita rakyat, dan kisah lisan membuat situs ini hidup di hati orang-orang sekitar.
4.Cagar budaya yang nyata: Meskipun sudah tua dan sedikit rusak, situs ini resmi dilindungi sebagai warisan budaya artinya perhatian dan pelestarian ada, meski tantangannya tidak sedikit.
Iklan
Mau Pasang Iklan? Email: [email protected]